Sayap

Jumat, 25 Februari 2011


Sekumpulan burung dara tampak berkerumun di depan sarang mereka di sebuah pohon besar di tepian hutan. Keluarga besar burung ini sepertinya sedang bersiap untuk terbang ke suatu tempat. Wajah-wajah riang menghias tingkah mereka.

Hari itu, keluarga besar burung dara itu memang akan berangkat menuju ladang jagung yang bersebelahan dengan hutan tempat mereka tinggal. Naluri mereka seperti sudah menjadwalkan kalau hari itu butiran-butiran jagung lezat akan berserakan seusai panen petani.


“Ah, sebuah tempat yang begitu mengasyikkan,” bisik hati seekor burung dara muda yang juga tak mau ketinggalan. Dan, mereka pun mulai mengepak-ngepakkan sayap masing-masing untuk siap terbang.

Sayangnya, sebatang dahan kering tiba-tiba terjatuh dan tepat menimpa si burung dara muda. “Aduh!” teriak sang burung spontan.

Dahan patah yang terjatuh dari ketinggian itu tepat menimpa sayap kanan sang burung. Ia pun merintih kesakitan.

Semua burung yang lain sudah terlanjur terbang meninggalkan si burung dara muda yang masih di depan sarang. Begitu bersemangatnya mereka terbang, hingga lupa kalau salah satu saudara mereka masih tertinggal di pintu sarang.

Kini tinggallah si burung dara muda merintih kesakitan. Beberapa kali ia mencoba terbang, tapi sayapnya yang luka masih nyeri untuk digerakkan. ”Ah, mungkin sayap kananku patah!” keluh sang burung masih membayangkan tempat indah yang mungkin kini sedang dinikmati saudara-saudaranya.

Dalam kesendirian itu, ia sempat bergumam, ”Tuhan, kenapa kau timpakan ketidaknyamanan hanya buatku seorang.”

Selama beberapa jam ia menunggu kepulihan sayapnya agar bisa terbang. Tiba-tiba, seekor burung dara menukik tajam dan nyaris menabrak sarang di mana si burung muda beristirahat. Ia pun kaget ketika mendapati salah seorang saudaranya sudah berada persis di depannya dengan beberapa luka di bagian pangkal kaki dan dada.

“Ada apa, saudaraku?” ucap si burung dara muda sambil memeriksa luka saudaranya. “Mana yang lain?” sambungnya.

Dengan tertatih-tatih, saudara burung itu pun berujar pelan. ”Semuanya tertangkap jebakan manusia. Hanya aku yang berhasil kabur,” ucap sang burung sebelum akhirnya terkulai.

Saat itu, si burung dara muda pun tercenung. Ia seolah bingung, apakah dengan kondisi patah sayapnya itu ia sedang diberikan ketidaknyamanan oleh Tuhan, atau sebaliknya.

**
Dalam upaya menggapai cita-cita hidup, tidak jarang terjadi ‘patah sayap’ yang dialami sebagian kita. Bisa berupa gagal karir karena musibah, putus pendidikan karena biaya, gagal berjodohan karena sesuatu hal, dan sebagainya.

Nurani kemanusiaan kita pun seperti berontak untuk akhirnya mengatakan, “Tuhan, kenapa Kau timpakan ketidaknyamanan ini buatku seorang?”

Kalau saja ada kemampuan mata kita untuk melihat ujung perjalanan waktu yang akan kita alami, kalau saja kita bisa mengintip dari celah tirai hikmah hidup yang akan dilalui, mungkin hati dan lidah kita akan berujar, ”Terima kasih atas ketidaknyamanan ini, wahai Yang Maha Sayang!” (muhammadnuh@eramuslim.com)

0 komentar:

Poskan Komentar