Gowes Tiga Negara Part III

Senin, 18 Mei 2020



Semalam saya tidur dengan nyenyaknya. Mungkin karena kecapean. Kemaren, hari pertama perjalanan kami kurang lebih 95 km. Saya agak keteteran. Pantat ini terasa panas.

Selesai shalat subuh, kami dijamu sarapan oleh pengurus masjid. Salah satu kebiasaan  di sini adalah sedekah sarapan pagi bagi jama’ah. Pagi ini menunya lontong sayur. Rasanya lebih enak dari pada lontong sayur yang kami sarapan saat di Malaka. Sambil sarapan kami berbagi cerita dengan para jama’ah yang rata-rata sudah berumur paruh baya.

Dari pembicaraan itu ternyata banyak di antara para jama’ah adalah keturunan jawa. Tidak heran kalau mereka bisa berbahasa jawa. Salah satunya adalah imam yang memimpin shalat subuh tadi. Orang tua laki-lakinya ternyata berasal dari Jawa. Saya lupa di daerah mananya.

Berdasarkan sejarahnya memang Distrik Batu Pahat dahulu banyak tenaga kerja yang didatangkan dari Indonesia, khususnya Jawa. Sebagian besar dari mereka adalah pekerja di perkebunan sawit.

Pukul 08.00 kami kayuh kembali sepeda. Pusat Kota Batu Pahat masih berjarak 6 km lagi. Hari ini hari Jum’at. Rencananya perjalanan hari ini sampai ke Kota Johar Baru. Jaraknya kurang lebih 105 km dari Kota Batu Pahat.

Jalanan yang kami lalui masih seperti kemaren. Rata-rata lurus dan datar, dengan aspal yang cukup mulus. Tantangan yang saya rasakan adalah panas terik matahari dan panasnya aspal. Seolah-olah seperti kue bika yang dibakar dari atas dan dari bawah.

Selepas kota Batu Pahat, kami mampir di lapak penjual durian. Keinginan itu muncul karena ada tulisan 30 Ringgit per tiga biji durian. Tanpa banyak tanya Pak Dedi dan Ustad memilih 3 biji durian  yang terpajang. Ketika hendak membayar ternyata harganya tidak sesuai dengan tulisan. 30 Ringgit untuk 3 biji durian ternyata bagi durian sortiran. Untuk durian yang dipilih Pak Dedi harganya   Rp. 75.000,- perbuah. Karena sudah terlanjur memilih, akhirnya Pak Dedi Cuma membeli satu biji durian saja. Kami nikmati sebiji durian walau dengan sedikit kesal, serasa ditipu penjual durian. 

Kemudian perjalanan kami lanjutkan.

Ustad merasa lapar. Hari masih menunjukkan pukul 10.00. Kami mampir di sebuah rumah makan. Fisherman’s Asam Pedas namanya. Untuk kesekian kalinya makan asam pedas. Saya juga pesan es cendol durian yang sangat enak rasanya.

Hari ini hari Jum’at, setelah makan kami siap berangkat. Sebelum berangkat sempat diajak berfoto bareng sama pemilik rumah makan. Tidak begitu  jauh dari tempat makan, ada sebuah masjid yang bernama  Masjid Sri Sabak Uni. Kami mampir untuk jum’atan.

Selesai melaksanakan shalat Jum’at kami tidak langsung berangkat. Kami gunakan sedikit waktu untuk beristirahat. Setelah terik matahari agak reda, pukul 15.30 perjalanan kami lanjutkan.

Di persimpangan daerah Aer Hitam namanya, kami ambil jalur arah ke kanan. Kota berikutnya bernama Simpang Ranggam, Di sini kami berjumpa dengan anak angkat Pak Dedi yang sudah lama tinggal di Johar Baru. Bersama suami dan anak-anaknya mencoba menyongsong Pak Dedi di perjalanan. Rupanya Pak Dedi sudah terlebih dahulu menghubungi anak angkatnya tentang rencana perjalanan kami.

Hari sudah semakin sore ketika kami melewati Kota Simpang Renggam. Di kiri kanan yang tampak cuma pohon kelapa sawit. Kembali saya jauh tertinggal. Om Fajar, Pak Dedi dan Ustad sudah jauh di depan. Jaraknya sekitar 800 meter. Di sebuah warung di pesawangan mereka menunggu.

Matahari mulai tenggelam. Perjalanan kami ke Johar Baru masih jauh. Sekitar 20 km lagi. Lampu sepeda kami pasang. Informasi dari pemilik warung, sejauh 5 km ke depan gelap, karena tidak ada lampu penerangan. Kota yang terdekat adalah Kota Kulai. Jaraknya masih 8 km lagi di depan. Jalannya tanjakan panjang naik turun.

Karena sudah lapar, kami makan malam di sebuah warung jelang memasuki kota. Kali ini pilihan kami adalah nasi goreng. Cukup enak rasanya. Entah mungkin karena kami kelaparan…

Setelah makan malam kami coba lanjutkan perjalanan. Hari sudah menunjukkan pukul 10 malam. Terjadi sedikit insiden kecil beberapa ratus meter dari tempat kami makan. Ustad, Om Fajar dan Pak Dedi berada di depan. Tanpa disadari ada seekor anjing mengejar dari sisi kiri jalan. Karena mereka berhenti mendadak, akhirnya kami tabrakan. Semuanya jatuh ke jalan. Walau tidak parah, kaki saya berdarah karena tergores spart board.

Akhirnya kami sampai juga di Kota Kulai. Hari sudah menunjukkan  pukul 23.00. Kami sepakati untuk mencari penginapan. Setelah beberapa kali, baru kami mendapatkan hotel yang cukup murah. Rp. 600.000 semalam dengan kamar yang bisa menampung 4 orang. (bersambung)





0 comments:

Posting Komentar